Pengetahuan tentang HIV AIDS, Apakah aplikasi mobile dapat membantu?

Hari AIDS sedunia jatuh tepat pada tanggal 1 Desember, hari ini. Tim Gawaisehat akan lebih banyak menghadirkan tulisan tentang aplikasi mobile yang terkait dengan penanggulangan HIV AIDS.

Era keterbukaan yang tertutup

Data tentang penderita HIV AIDS bersifat fenomena gunung es. Tidak bisa terungkap secara menyeluruh. Kejadian bisa tercatat hanya apabila penderita melaporkan diri atau datang berobat ke sarana pelayanan kesehatan. Hal tersebut mengingat faktor resiko terbesar penyakit ini merupakan perilaku seks bebas dari penderita, yang tidak semua orang mau berterus-terang mengungkapkannya.

Sementara akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi amat terbatas. Beberapa lini masyarakat tertentu menyalah-artikan penyebaran informasi pendidikan seks untuk siswa sekolah, selain adanya tata nilai serta hukum yang membatasi pembahasan tentang seks yang masih dianggap tabu dibicarakan secara terbuka, baik dengan orangtua, guru maupun petugas layanan kesehatan.

Ini menjadi salah satu penghambat bagi mereka yang harusnya berhak mendapatkan informasi sejelas-jelasnya, khususnya perihal penyakit HIV AIDS. Berbagai penelitian menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab masih terjadinya kasus penyakit disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan masyarakat, yang notabene adalah juga penderita. Karenanya, dukungan teknologi informasi selayaknya dapat mengakomodir akses penyebaran informasi ini, guna manfaat yang lebih besar, terutama pencegahan dan penanggulangan penyakit secara mandiri. Bisakah aplikasi mobile turut berperan serta?

Karakter HIV AIDS

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menyerang sel darah putih sehingga merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Fase awal terinfeksi virus ini, biasanya tubuh tidak memperlihatkan adanya gejala pada si pengidap. Stadium berikutnya yaitu AIDS.

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena HIV telah menyebabkan turunnya kekebalan tubuh, dimana tubuh menjadi rentan terkena infeksi virus, bakteri, jamur, maupun parasit.  Fase infeksi ini terjadi setelah mengidap HIV selama sekitar 3 sampai 10 tahun, bervariasi menurut kondisi personal penderita. Infeksi ini biasa disebut infeksi oportunistik, yang justru sering berakibat fatal. Seiring dengan perkembangan AIDS, system imun telah mengalami kerusakan dan gejala infeksi tahap lanjut mulai terlihat dan tubuh menjadi rentan terhadap kanker, terutama ca serviks, lymphoma dan Kaposi’s sarcoma.

Perilaku, faktor risiko utama HIV AIDS

hiv transmissionPenularan HIV AIDS lebih banyak karena aspek perilaku seperti seks bebas, yaitu berhubungan seksual dengan lebih dari satu orang dan tanpa pelindung, ini bisa menyebabkan tertular bila pasangan menderita HIV, pasangan menderita penyakit menular lain seperti syphilis, herpes, chlamydia, gonorrhea dan bacterial vaginosis. Perilaku lain adalah memakai jarum suntik secara bersama dengan orang yang mengidap HIV, maka jelas akan tertular, selain itu juga ibu hamil pengidap HIV akan menulari bayi yang dikandungnya.

Data statistic HIV AIDS

Telah dikatakan di awal tulisan ini bahwa data kejadian HIV AIDS tidak dapat terdeteksi secara tepat. Terjadi fenomena gunung es, dimana data yang terdokumentasi hanya menunjukkan sebagian kecil dari kejadian yang sesungguhnya, yang boleh jadi berkali lipat jumlahnya.

Menurut laporan Pusdatin Kemenkes RI, di tahun 2013 di seluruh dunia terdapat 35 juta orang hidup dengan HIV, diantaranya 16 juta perempuan dan 3,2 juta anak dibawah umur 15 tahun. Masih tahun yang sama, jumlah infeksi-baru HIV sebesar 2,1 juta yaitu 1,9 juta dewasa dan 240.000 anak dibawah 15 tahun. Dan jumlah kematian karena AIDS adalah 1,5 juta jiwa.

Di Indonesia, HIV pertama kali ditemukan di Bali tahun 1987 dan hingga tahun 2014 sudah terdapat 150.296 kasus HIV dan 55.799 kasus AIDS yang terlaporkan. Selain itu, Indonesia menempati peringkat ke-3 terbanyak sedunia untuk jumlah penderita HIV AIDS dengan pesebaran paling cepat. Diperkirakan setiap 25 menit terdapat satu orang terinfeksi HIV dan 1 dari 5 orang yang terinfeksi tersebut berusia di bawah 25 tahun. Tahun 2015 terdapat 30.935 kasus HIV-baru, Kemenkes memprediksi akan ada 34.000 kasus HIV baru hingga akhir 2016.

Tak ada pengobatan, hanya ada pencegahan

Dalam beberapa bahasan tentang HIV AIDS, disebutkan bahwa pengidap HIV memerlukan pengobatan dengan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV dalam tubuh agar tidak masuk ke stadium AIDS, sedangkan pengidap AIDS memerlukan pengobatan ARV untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik dengan berbagai komplikasinya. Pada prinsipnya, hal itu dilakukan untuk mencegah HIV tidak cepat berkembang, bukan memberantas virus.

Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Adapun pencegahan yang digencarkan adalah melindungi diri dari perilaku faktor resiko, yaitu dengan mengambil jalan aman berikut ini: menggali pengetahuan dengan benar dan jelas, apa dan bagaimana penularan HIV AIDS itu; mengetahui sebaik mungkin status kesehatan pasangan seksual; menggunakan pelindung/kondom setiap kali berhubungan seks; menggunakan jarum suntik steril dan tidak bergantian; mewaspadai darah transfusi serta memeriksa kesehatan secara teratur.

Khususnya penderita atau suspek, program yang dijalankan adalah konseling dan tes HIV sukarela, agar dapat diketahui lebih dini dan dapat diatasi dengan lebih baik.  Menurut data Kemenkes RI, tahun 2014-2015 sudah satujuta lebih orang melakukan tes HIV. Angka ini naik dibandingkan tahun 2012 yang hanya sekitar 200ribu. Program-program ini terus ditingkatkan dalam upaya serius menanggulangi HIV AIDS baik di tanah air maupun internasional. Political Declaration 2016, berisi kebijakan dan strategi pencegahan dan pemberantasan HIV AIDS, tertuang dalam Agenda Pembangunan 2030 bahwa upaya penanggulangan HIV AIDS menjadi bagian integral dalam agenda tersebut.

Pengetahuan tentang HIV AIDS

Secara teoritis, orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang suatu hal, maka dia akan memutuskan untuk melakukan atau tidak akan melakukan suatu hal yang diketahuinya itu tanpa ragu.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa masih tingginya kasus kejadian HIV AIDS disebabkan salah satu faktornya adalah kurangnya informasi tentang penyakit HIV AIDS itu sendiri. Mengingat masih banyak orang tidak mudah berterusterang bahwa dirinya pengidap, maka diperlukan saluran informasi secara mandiri, ini yang belum dapat terpenuhi mengingat beberapa keterbatasan yang telah disampaikan di atas.

Berdasarkan penelitian pengetahuan remaja Indonesia tentang HIV AIDS, ditemukan bahwa hanya 51% remaja Indonesia yang memiliki pengetahuan yang baik tentang HIV AIDS, dan kondisi demikian masih memerlukan beberapa solusi yaitu penggalakan sosialisasi informasi tentang kesehatan reproduksi khususnya HIV AIDS; promosi pencegahan di sekolah, serta penyuluhan tentang HIV AIDS di kalangan remaja.

Kesimpulan penelitian lain tentang pengetahuan HIV AIDS di kalangan pelajar SMA, adalah bahwa media massa merupakan sumber informasi utama pelajar dalam mendapatkan pengetahuan tentang HIV AIDS; intervensi peningkatan pengetahuan HIV AIDS di sekolah harus menyeluruh termasuk kepada guru; media massa yang turut berperan adalah koran, radio, dan tv local; kurikulum kesehatan reproduksi SMP dan SMA, dan program kelompok siswa peduli AIDS juga merupakan sumber pengetahuan tentang HIV AIDS.

Masih temuan tentang minimnya pengetahuan HIV AIDS, hasil laporan Unicef Indonesia dalam Kajian Respon terhadap HIV & AIDS tahun 2012, menyebutkan diantaranya bahwa :

  • Pengetahuan kalangan muda tentang HIV telah mengalami peningkatan, tetapi masih terbatas;
  • Pengetahuan kalangan muda belum memadai untuk menjamin perilaku yang aman;
  • Tingkat pengetahuan mengenai HIV dan AIDS diantara penduduk kebanyakan di usia 15 tahun ke atas masih rendah;
  • Kelompok beresiko tinggi, meskipun lebih tahu tentang HIV, tetapi masih terlibat dalam perilaku beresiko;
  • Pengetahuan tentang keberadaan pelayanan tes sukarela dan rahasia (VCT) masih terbatas.

Harapan terhadap aplikasi mobile

Mampukah teknologi mobile turut berperan dalam peningkatan pengetahuan masyarakat guna pencegahan HIV AIDS?

Penelitian tentang penggunaan ponsel pintar, internet dan social media dalam pelayanan lanjutan HIV menunjukkan hasil bahwa mobile health atau mHealth tersebut terbukti efektif menunjang pelayanan lanjutan HIV.

Penelitian lain menyatakan bahwa penggunaan mHealth dalam treatment dan pencegahan HIV menunjukkan manfaat yang baik. Fasilitas yang diberikan adalah system alerts dan pengingat/reminder, pengumpulan data, komunikasi suara langsung, pesan edukasi dan segala kebutuhan informasi terkait treatment dan pencegahan HIV. Responden memberikan masukan yang mengindikasikan bahwa teknologi mHealth kedepan akan tetap digunakan sehingga diharapkan akan semakin berkembang dalam mendukung peningkatan pengetahuan pengguna atau masyarakat tentang penyakit, pencegahan, dan penanggulangan HIV AIDS.

Beberapa aplikasi kesehatan yang telah rilis, terutama yang berbasis android, seperti HIV Atlas, The Body, AIDSinfo HIV Glossary, GoodRX, Care4Today, dan yang berbahasa Indonesia adalah AIDS Digital, menanam berbagai fasilitas berikut: real time monitoring dan pengumpulan data kesehatan individu pengguna, informasi perihal segala hal tentang HIV AIDS, dukungan pengobatan, konsultasi kesehatan, konseling, info tes HIV, serta informasi pelayanan tes sukarela terdekat. Cukup lengkap, lalu bagaimana penggunaan aplikasi mobile tersebut?

Simak artikel review apps Gawaisehat berikutnya…

 

(Rawi Miharti)

Sumber:

Kathryn E.Muessig, Manali Nekkanti, Jose Bauermeister, Sheana Bull, Lisa B. Hightow-Widman. (2015) A Systematic Review of Recent Smarthphone, Internet and Web 2,0 Intervention to Address the HIV Continuum of Care. Current HIV/AIDS Reports, vol. 12, issue 1, March 2015.

Pusdatin, Kemenkes RI (2014) Infodatin: Situasi dan Analisis HIV AIDS.

Caricia Catalani, William Philbrick, Hamish Fraser, Patricia Mechael, Dennis M.Israelski.(2013) mHealth for HIV Treatment and Prevention: A Systemic Review of Literature. The Open AIDS Journal, vol. 7, 2013.

Unicef Indonesia (2012) Respon terhadap HIV & AIDS. Ringkasan Kajian Oktober 2012.

Sudikno, Bona Simanungkalit, Siswanto (2011) Pengetahuan HIV dan AIDS pada Remaja di Indonesia. Jurnal Kesehatan Reproduksi, vol. 1 No. 3, Agustus 2011.

Ossie Sosodoro, Ova Emilia, Budi Wahyuni (2009) Hubungan Pengetahuan tentang HIV AIDS dengan Stigma Orang Dengah HIV AIDS di Kalangan Pelajar SMA. Berita Kedokteran Masyarakat, vol. 25 No. 4, Desember 2009.

Check Also

mobile-health-apps

[Survey] Berbagai Jenis Aplikasi Kesehatan Berbasis Mobile Di Pasaran

Terdapat berbagai mobile health apps atau aplikasi kesehatan berbasis mobile di pasaran, mulai dari yang memiliki fungsi sederhana hingga yang kompleks.

Show Buttons
Hide Buttons