jkn-emr

JKN: pendorong adopsi rekam medis elektronik di Indonesia?

Penggunaan rekam medis elektronik (RME) oleh fasilitas kesehatan terus meningkat. Di Indonesia survei dengan skala besar mengenai hal ini memang belum pernah dilakukan. Akan tetapi, semenjak diterapkannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), jumlah puskesmas yang mengadopsi sistem elektronik meningkat pesat karena diwajibkan menggunakan PCare. Dalam posting terdahulu, GawaiSehat pernah membahas mengenai potensi PCare sebagai rekam kesehatan elektronik. Kali ini, GawaiSehat akan membahas tentang adopsi rekam kesehatan elektronik dalam konteks reformasi sistem kesehatan.

Seiring dengan roadmap JKN yang menargetkan untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia dengan jaminan kesehatan pada tahun 2019, adopsi PCare akan terus meluas. Dengan jumlah peserta yang terus meningkat, BPJS Kesehatan semestinya juga akan meningkatkan layanan bagi pengguna PCare. BPJS harus mengalokasikan sumberdaya untuk infrastruktur jaringan dan server di cloud (agar akses ke server Pcare tidak lemot), perbaikan fitur dan fungsi aplikasi, penyempurnaan sistem database PCare, penggunaan standar (data dan terminologi) sampai dengan memberikan insentif kepada fasilitas kesehatan agar melakukan bridging antara aplikasi lokal dengan PCare (Tulisan Gawai Sehat tentang bridging PCare dengan aplikasi lokal di fasilitas pelayanan kesehatan dapat diakses di sini).

Pengalaman di negara lain  menunjukkan bahwa reformasi jaminan kesehatan memberikan dampak positif bagi fasilitas kesehatan khususnya dalam mengadopsi rekam medis elektronik. Dampak negatifnya  juga ada. Di Thailand, beban kerja di fasilitas kesehatan meningkat dan muncul dugaan fraud (Kijsanayotin, 2013). Reformasi sistem kesehatan di beberapa negara maju telah terbukti mendorong adopsi rekam medis elektronik (Schoen, 2012).

schoen2012
Penggunaan rekam medis elektronik pada layanan primer di beberapa negara maju (Schoen, 2012)

Meskipun awalnya tertinggal dibanding beberapa negara maju lainnya, penggunaan rekam medis elektronik meningkat tajam di Canada dan AS dalam beberapa tahun terakhir. Yang menarik dibahas di sini adalah kemajuan di AS. Di negara Paman Sam tersebut, adopsi rekam medis elektronik didorong oleh perundangan yang dikenal dengan nama Hitech (Health Information Technology for Economic and Clinical Health) Act pada tahun 2009 yang memberikan insentif  bagi fasilitas kesehatan yang menerapkan rekam medis elektronik. Penalti diberikan dalam bentuk pengurangan reimbursement dari CMS (Center for Medicare and Medicaid Services ) -semacam BPJS Kesehatan -bagi yang tidak mencapai target penerapan RKE mulai tahun 2015.

trend-ehr-us
Trend penggunaan rekam kesehatan elektronik di AS (ONC, 2015)

 

Dengan adanya kebijakan tersebut, tipe RKE yang digunakan juga semakin maju. Proporsi rumah sakit yang menggunakan RKE yang komprehensif meningkat tajam dibandingkan proporsi pengguna RKE dasar. Rumah sakit pengguna RKE dasar hanya meningkat 4 kali lipat,  dari 11,8% pada tahun 2008 menjadi 48,8% pada tahun 2014. Namun, rumah sakit pengguna RKE komprehensif meningkat 20 kali lipat (dari 1,6% menjadi 34,4%)

 

Kita semua tentu berharap agar sejarah reformasi kesehatan Indonesia melalui JKN juga dapat memberikan cerita yang (jauh lebih) menarik sebagaimana yang telah dicatat oleh negara lain. Sebelum dimulainya era JKN, data Risfaskes (2011) memberikan gambaran tentang minimalnya adopsi teknologi informasi di Puskesmas.

puskesmasrisfaskes
Kondisi TI Puskesmas (Risfaskes, 2011)

Kondisi tersebut sekarang sudah jauh berubah. Saat itu PCare memang sudah diujicobakan di sejumlah daerah khususnya di dokter keluarga yang bekerjasama dengan PT Askes, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Saat ini sudah ribuan Puskesmas menggunakan PCare dengan berbagai ragam kondisi. Di daerah dengan akses Internet sulit mengakses PCare benar-benar akan menjadi beban. Tetapi bagi faskes yang tidak mengalami kesulitan akses Internet, tantangannya akan berbeda.

pcarescreen
Contoh tampilan PCare di layanan primer

Gambar di samping merupakan contoh sederhana penggunaan PCare di layanan primer. Pengisian data yang terstandar, lengkap dan akurat masih menjadi tantangan besar. Belum lagi jika kemudian dikaitkan dengan kompetisi dengan beberapa aplikasi lokal yang sudah lebih dulu bertengger di fasilitas kesehatan primer. Proses bridging semestinya dipermudah. Para pengembang yang harusnya diajak kerjasama harus lebih banyak lagi. Di AS, dengan adanya kebijakan Hitech, jumlah vendor berkembang dengan pesat.

Kembali kepada judul tulisan ini, apakah JKN akan menjadi pendorong adopsi rekam medis elektronik di Indonesia? (Bersambung pada tulisan di Gawai Sehat berikutnya)

Check Also

electronic health record

Inilah Tahapan Ideal Implementasi Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit

Berikut adalah tahapan ideal dalam implementasi rekam medis elektronik, khususnya di rumah sakit.

Show Buttons
Hide Buttons