telehealth

Dukungan Telehealth dalam Pelayanan Kesehatan Daerah

Latar belakang telehealth: faktor geografis

Kondisi geografis wilayah Indonesia yang memiliki banyak pulau, serta kondisi geomorfologi yang memiliki sungai, bukit, pegunungan, lembah, rawa dan hutan; menyebabkan jarak antar daerah menjadi berjauhan. Hal ini menyebabkan sektor transportasi, guna berpindahnya dari satu tempat ke tempat yang lain menjadi penting. Selain itu faktor waktu juga menjadi pertimbangan,  mengingat jarak tempuh yang berjauhan akan lebih banyak menghabiskan waktu di perjalanan. Dalam hal layanan kesehatan, sangat diperlukan upaya memangkas jarak dan waktu ini agar tetap efektif dan efisien, mengingat masih banyak masyarakat yang tinggal jauh dari fasyankes.

Kasus-kasus terbatasnya akses layanan kesehatan mendorong timbulnya konsep layanan jarak-jauh. Muncullah upaya layanan berbasis teknologi informasi-komunikasi, salah satunya dikenal sebagai telehealth.

Bantuan telehealth

Menurut The Health Resources Services Administration, telehealth merupakan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi elektronik guna mendukung layanan kesehatan jarak-jauh, edukasi penghubung pasien dan profesi kesehatan, serta urusan administrasi kesehatan masyarakat. Teknologi yang digunakan adalah videoconference, internet, store-and-forward imaging, media streaming dan komunikasi terrestrial & nirkabel. Dengan cara ini, layanan konsultasi kesehatan dapat dilakukan tanpa harus bertemu langsung dengan dokter, namun tetap dapat dilakukan secara tatap-muka.

Tipe telehealth

Berbagai macam layanan fasyankes daerah dapat lebih efektif dilakukan dengan dukungan telehealth. Teknologi ini dapat membantu fasyankes di daerah dengan kondisi geomorfologi bisa terhubung dengan pasien yang berjarak jauh. System ini juga mendukung terciptanya layanan pasien mandiri. Adapun tipe telehealth bisa berupa:

  • Konsultasi Interaktif (secara langsung): dengan menggunakan videoconference masing-masing pihak yang berjauhan lokasi, dapat melakukan wawancara tatap muka pada saat bersamaan.
  • Konsultasi Simpan-Kirim (tidak langsung): informasi dari satu pihak bisa disimpan atau kemudian dikirimkan ke pihak lain yang berada di tempat lain.
  • Konsultasi Hybrid (campuran): konsultasi dengan cara interaktif dengan videoconference dan juga dengan cara simpan-kirim.

Penghubung fasyankes dan pasien

Telehealth yang mampu menghubungkan fasyankes dengan pasiennya dapat mengurangi jarak yang jauh dan waktu yang lama. Misalkan klinik di daerah yang membutuhkan konsultasi dokter spesialis stroke bagi pasiennya sebab di wilayah tersebut tidak ada praktek dokter spesialis. Pada kondisi terhambat jarak dan waktu, fasyankes dapat memilih menggunakan telehealth sebagai solusi menghubungkan dokter dan pasien-nya, daripada meminta pasien melakukan perjalanan jauh dan menghabiskan waktu.

Mengembangkan layanan pasien mandiri

Manfaat lain dari penggunaan telehealth adalah mendorong pengembangan layanan kesehatan mandiri. Artinya, pada saat mendatang, bila infrastuktur telehealth dan dukungan penggunaan teknologi ini digunakan dalam masyarakat secara individual, maka konsultasi kesehatan melalui videoconference dapat dilakukan di lokasi manapun, kapan pun dalam kondisi apa pun. Tidak mustahil bila suatu saat layanan telehealth akan berupa:

  • Komunikasi atau konsultasi mandiri antara pasien dan fasyankes (rumah sakit, puskesmas, klinik, dokter praktek, bidan praktek, dsb) yang bisa dilakukan sendiri dari rumah;
  • Berdasarkan arahan dari dokter, sebagai tindak lanjut komunikasi jarak-jauh tadi, pasien dapat mengelola sendiri apa yang harus dilakukan terkait kesehatannya;
  • Memupuk pengetahuan, kemampuan dan keterampilan pasien dalam menangani dan menjaga kesehatan-nya;
  • Pasien mampu mengelola penggunaan obat sendiri;
  • Antar fasyankes dapat melakukan konsultasi perihal layanan kesehatan;
  • Muncul perubahan dalam sektor kesehatan, seperti perubahan perilaku gaya hidup masyarakat.

Infrastruktur yang dibutuhkan

Kebutuhan infrastruktur layanan telehealth akan tergantung dari lokasi, kondisi serta organisasi penyedia layanan telehealth itu sendiri, namun umumnya program telehealth akan membutuhkan :

  • Akses broadband internet. Guna melakukan transmisi data audio dan video, diperlukan kecukupan Bandwidth. Mungkin fasyankes di daerah lebih kesulitan mencapai broadband yang diinginkan, karenanya perlu konsultasi dengan dinas terkait.
  • Teknologi imaging atau peripherals. Alat penerima ini penting dalam telehealth yang memungkinkan dokter mengetahui (melihat dan mendengar) kondisi pasien dimanapun jauhnya pasien berada. Sebagai contoh, suara jantung dan paru-paru yang ditangkap oleh stethoskop digital, dapat langsung dikirim lewat telehealth kepada dokter atau fasyankes yang dituju.
  • Tenaga pendukung. Perlu dipersiapkan staf teknis yang mampu membantu menjawab pertanyaan atau masalah seputar program telehealth. Agar lebih efisien, satu orang staf teknis dapat bekerja untuk beberapa fasyankes.
  • Pelatihan sumberdaya manusia. Tenaga kesehatan perlu dilatih menggunakan teknologi telehealth, yangmana latihan ini akan membutuhkan waktu. Penggunaan telehealth jelas memerlukan perubahan dalam cara kerja, oleh karena itu perlu adanya pelatihan.

Bentuk layanan telehealth

Secara global memang telehealth sangat membantu bagi daerah layanan kesehatan yang terbatas dari segi jarak dan waktu, namun disana harus memiliki infrastruktur yang memadai agar layanan fasyankes dapat lebih dirasakan secara langsung oleh pasien. Berikut bentuk layanan, baik klinis maupun non klinis, yang didukung oleh teknologi telehealth:

  • Transmisi gambar/foto medis guna kepentingan penegakan diagnosis (store and forward telehealth);
  • Edukasi atau perubahan layanan kesehatan masyarakat lewat videoconference (real-time telehealth);
  • Pengiriman data medis guna penegakan diagnosis atau manajemen penyakit (remote monitoring);
  • Pencegahan penyakit dan promosi kesehatan melalui monitoring dan followup kondisi pasien;
  • Konsultasi kesehatan melalui telpon pada kasus gawat darurat, seperti teletriage.
  • Edukasi jarak-jauh, seperti edukasi pengobatan berkelanjutan dan edukasi pasien;
  • Penggunaan administratif,  seperti rapat dan presentasi di fasyankes;
  • Riset telehealth;
  • Informasi online dan manajamen data kesehatan;
  • Integrasi system pelayanan kesehatan;
  • Perpindahan pasien dan pencatatan data pasien di daerah;
  • Penyelenggaraan berbagai jenis pelatihan tenaga kesehatan.

 

(Rawi Miharti)

 

Referensi :

http://www.healthit.gov/

Ilustrasi :

http://med.dartmouth-hitchcock.org/images/TeleMedNeuro.jpg

Show Buttons
Hide Buttons