rekam kesehatan elektronik

p-Care dan potensinya menjadi EHR di Indonesia

Dengan diterapkannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik pratama yang bekerjasama dengan BPJS diwajibkan menggunakan p-Care, sebuah sistem informasi yang memuat data kepesertaan BPJS serta data pelayanan yang telah diberikan kepada pasien peserta BPJS oleh FKTP yang bersangkutan. Ketidakterisian data pada p-Care akan berimbas kepada berkurangnya dana kapitasi yang diberikan BPJS kepada masing-masing FKTP (Saat ini, nampaknya pembayaran kapitasi ke Puskesmas masih belum dikaitkan dengan kualitas pengisian PCare). Meskipun demikian, Hal tersebut tidak mengurangi peran sentral p-Care  dalam revolusi rekam kesehatan. Tulisan lainnya di Gawai Sehat membahas aspek kebijakan kesehatan, yaitu Jaminan Kesehatan Nasional, sebagai faktor pendorong adopsi rekam medis elektronik di Indonesia.

Meskipun masih sangat sederhana, p-Care memuat data identitas pasien, pemeriksaan fisik, diagnosis, tindakan, obat yang diberikan, serta hasil pemeriksaan laboratorium. Jika data ini diisi dengan lengkap maka p-Care memenuhi kriteria sebagai rekam medis elektronik. Rekam medis elektronik adalah sistem informasi kesehatan berbasis komputerisasi yang menyediakan dengan rinci catatan tentang data demografi pasien, riwayat kesehatan, alergi, dan riwayat hasil pemeriksaan laboratorium serta beberapa diantaranya juga dilengkapi dengan sistem pendukung keputusan (Ludwick & Doucette, 2009).

Input Data pada p-Care
Input data pada p-Care

Karena p-Care memiliki basis data yang terintegrasi secara nasional, dan digunakan juga di seluruh Indonesia maka p-Care juga sebenarnya berpotensi untuk menjadi sebuah sistem EHR (Electronic Health Record) yang pertama di Indonesia. EHR atau rekam kesehatan elektronik mengintegrasikan data dari rekam medis pasien di masing-masing sarana pelayanan kesehatan (Lobach & Detmer, 2007). Jika seorang pasien peserta BPJS berpindah dari puskesmas A ke puskesmas B misalnya, maka data pelayanan kesehatan pasien tersebut selama di Puskesmas A juga dapat ditelusuri pada Puskesmas B. Kontinuitas riwayat kesehatan pasien terjaga meskipun dirawat atau ditangani oleh pemberi pelayanan kesehatan yang berbeda. Itulah kenapa p-Care berpotensi menjadi sistem EHR yang pertama di Indonesia.

Namun apakah saat ini p-Care sudah dapat disebut sebagai EHR? Tentu hal tersebut membutuhkan proses yang panjang. Apalagi saat ini p-Care baru dipakai sebatas kebutuhan BPJS saja. Data yang diinputkan di dalamnya juga mungkin belum bisa dibilang valid, misal jika masing-masing pemberi pelayanan kesehatan hanya mengejar kelengkapan data yang diinput tanpa mempedulikan kualitas data yang diinput. Dengan kata lain hanya mengejar kapitasi BPJS saja. Hal ini tentu menjadi PR tersediri bagi BPJS dan bagi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama.

 

Pustaka:

Lobach, D. F., & Detmer, D. E. (2007). Research Challenges for Electronic Health Records. American Journal of Preventive Medicine, 32, 104-111.

Ludwick, D. A., & Doucette, J. (2009). Adopting Electronic Medical Records in Primary, Lesson Learned from Health Information System Implementation Experience in Seven Countries. International Journal of Biomedical Informatics, 22-31.

Check Also

cbpr

Skenario perkembangan rekam medis berbantuan komputer pada layanan primer di era JKN

Gawai Sehat tidak akan bosan untuk membahas JKN (Jaminan Kesehatan Nasional lho ya…bukan Jomblo Kronis …

Show Buttons
Hide Buttons