Doctor Gratis App

Launching Aplikasi Doctor Gratis Plus

Kondisi kesehatan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat berarti dalam beberapa dekade terakhir. Terutama sejak diluncurkannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh pemerintah Indonesia di awal 2014.

Industri kesehatan konvensional, seperti kehadiran jaringan rumah sakit, kunjungan pasien ke rumah sakit dan konsultasi tatap muka yang biasanya dihindari, kini malah diminati.

Tak hanya itu saja, meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan membuat masyarakat pun membutuhkan kehadiran solusi kesehatan yang cepat, praktis dan akurat dengan memanfaatkan teknologi komunikasi.

Maka lahirlah Mobile Health (mHealth), sebuah layanan seputar informasi kesehatan yang menggunakan perangkat komunikasi mobilephone seperti PDA (Personal Digital Assistant) dan ponsel.

Jangan heran, bila berdasarkan hasil studi PwC dan GSMA dalam laporannya yang berjudul  mHealth Insightsdisebutkan bahwa solusi yang memanfaatkan perkembangan perangkat mobile untuk memberikan akses kesehatan di mana saja,  atau dikenal juga dengan sebutan mHealth, kini menjadi atraktif.

Laporan ini memprediksi bahwa, pendapatan dari mHealth secara global bisa mencapai US$23 miliar atau setara Rp337,3 triliun pada 2017, dengan pangsa pasar terbesar berada di Eropa dan kawasan Asia Pasifik, masing-masing sebesar 30 persen.

Lebih lanjut, mengutip laporan bertajuk Touching Lives Through Mobile Health: Assessment of the Global Market Opportunity, PwC dan GSMA menyatakan layanan dan aplikasi pemantauan kesehatan akan mewakili 65 persen dari pasar mHealth  pada 2017 nanti.

Besarnya potensi, namun masih terbatasnya pemain, membuat peluang untuk terjun di industri mHealth ini terbuka lebar.

Ini pula yang membuat sebuah perusahaan startup kesehatan digital berbasis di Singapura, Health2i Pte Ltd meluncurkan teknologi inovasi berupa aplikasi Doctor Gratis Plus di Indonesia, pada 3 September 2015 lalu.

Aplikasi berbasis Android  ini dirancang untuk memungkinkan pasien atau pengguna Android melakukan konsultasi kesehatan via ponsel. Dengan aplikasi ini, pasien bisa bertatap muka dengan dokter/dokter spesialis bersertifikat secara virtual untuk mendapatkan diagnosis.

Health2i sangat tanggap akan ceruk pasar yang cukup besar dari industri ini. “Kami melihat pasar kesehatan mobile[mHealth market] di dunia akan berkembang pesat, mulai dari layanan kesehatan mendasar seperti live chat, hingga yang lebih canggih seperti telemedicine untuk rumah sakit.

“Kami memperkirakan layanan kesehatan dasar melalui mobile ini bisa mencapai 900 juta hingga 1,2 miliar pengguna pada 2017 nanti, segmen ini lah yang disasar oleh Doctor Gratis Plus,” ujar direktur medis dari Health2i  Dr Jacques Durand dalam konferensi pers di Jakarta.

Ide aplikasi mobile ini mudah saja jika Anda merasa tidak enak badan, atau mengalami keluhan-keluhan lainnya, unduh aplikasi ini, daftarkan identitas diri berupa nama dan alamat surat elektronik, tambahkan detil metode pembayaran [dengan kartu kredit], lalu Anda bisa memilih dokter mana yang ingin Anda minta waktunya untuk berkonsultasi.

Karena layanan ini adalah layanan premium 24 jam penuh, maka setiap pengguna dapat memilih untuk berlangganan secara bulanan seharga US$9,95 (sekitar Rp145 ribu), atau berlangganan secara tahunan seharga US$99 (sekitar Rp 1,45 juta).

Pengguna dapat menikmati konsultasi melalui Doctor Gratis Plus secara cuma-cuma dengan memasukkan kode akses yang didapat dari asuransi kesehatan yang telah terdaftar sebagai mitra dalam aplikasi ini.

Meski untuk saat ini, jumlah dokter spesialis dari Indonesia masih di bawah 10 orang, tetapi ke depannya, Doctor Gratis Plus  akan menggandeng banyak dokter dan menjalin kerjasama dengan rumah sakit terkenal di tanah air.

“Kami berharap dalam beberapa minggu setelah peluncuran aplikasi premium ini, kami bisa bekerjasama dengan rumah sakit di Indonesia.”

“Jadi, jika pasien pengguna aplikasi Doctor Gratis Plus terbiasa berkonsultasi dengan dokter spesialis dari rumah sakit tertentu, maka jika kerjasama sudah terjalin, konsultasi bisa dilakukan dari ponsel pintar pasien, dengan waktu yang sudah disepakati bersama,” tambah Jacques.

Menurutnya aplikasi ini akan menjawab kesulitan masyarakat urban, terutama yang harus berhadapan dengan kemacetan, dan antrian di rumah sakit yang panjang.

Aplikasi ini dapat mengubah tatanan industri kesehatan di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya menuju digitalisasi industri serta pemanfaatan teknologi untuk efisiensi dan efektifitas layanan kesehatan di masa yang akan datang.

“Yang dilihat sekarang ini baru benar-benar layanan dasar berbayar dengan konsultasi video. Ke depannya, Doctor Gratis Plus ingin bekerjasama untuk mendapatkan akses data kesehatan elektronik [electronic medical records], serta mendapatkan izin untuk memberikan resep obat daring,” katanya.

Menurut Jacques, nantinya,  Doctor Gratis Plus akan banyak menggali potensi integrasi di industri kesehatan

Check Also

mobile-health-apps

[Survey] Berbagai Jenis Aplikasi Kesehatan Berbasis Mobile Di Pasaran

Terdapat berbagai mobile health apps atau aplikasi kesehatan berbasis mobile di pasaran, mulai dari yang memiliki fungsi sederhana hingga yang kompleks.

Show Buttons
Hide Buttons